Mengundang Kupu-kupu

Selasa, 01 Februari 2011

Masalah finansial merupakan salah satu sumber gangguan kesehatan bagi sebagian besar orang. Survei perusahaan asuransi AXA pada 2010 mengungkapkan, dalam 12 bulan terakhir, 63 persen orang yang mengalami kesulitan keuangan menjadi stres. Bahkan orang yang bekerja di puncak karier, seperti manajemen puncak, juga mengalaminya, karena sebanyak 21 persen top manajer merasa tertekan akibat masalah finansial. Sementara stres akibat pekerjaan hanyalah 9 persen.


Seberapa besar penghasilan yang kita dapat, sangat tergantung pada cara dan mindset kita dalam bekerja. Tak sedikit orang yang setiap hari bekerja keras, banting tulang, sehingga diibaratkan kepala dibuat kaki dan kaki dibuat kepala, penghasilannya tetap saja minim, dan karir pun tidak beranjak, hanya di situ-situ saja. Mengapa?

Dulu, sebelum teknologi dan ilmu pengetahuan belum secanggih dan semaju saat ini, otot merupakan andalan utama untuk mendapatkan finansial. Semakin kuat tenaga dan semakin kekar otot yang dimiliki, harapan untuk mendapatkan penghasilan banyak semakin besar. Kini, dimana fungsi otot dapat digantikan mesin, paradigma orang untuk mendapat penghasilan bergeser. Alih-alih menggunakan otot, kini mereka menggunakan otak. Itu sebabnya orang yang sadar benar apa arti kesuksesan dan kesejahteraan hidup, akan berupaya untuk dapat menempuh pendidikan setinggi mungkin. Bahkan jika ada, S4 pun dikejar.

Strategi dan Pola berpikir! Itulah kunci untuk memperoleh kebebasan finansial pada saat ini. Dengan memberdayakan pikiran semaksimal mungkin, orang dapat sukses dan kaya raya tanpa harus bercucuran keringat setiap hari. Namun demikian banyak orang berkata, “Oh, saya sudah menggunakan otak saya secara maksimal. Saya pelajari ini itu, saya fikirkan ini itu, dan sebagainya. Tapi hasilnya tetap sama saja”.
Mungkin ada yang salah dari yang Anda lakukan. Atau mungkin juga cara yang Anda gunakan kurang tepat.

Umumnya orang-orang yang berada pada posisi puncak bukanlah orang-orang yang harus bercucuran keringat ketika bekerja. Sebaliknya, mereka bahkan duduk dalam ruangan yang luas, nyaman karena bersih dan ber-AC, dan lengkap dengan semua perabotan yang dibutuhkan, seperti televisi, DVD, bahkan kulkas. Penghasilan mereka pun besar. Bahkan teramat besar. Mengapa? Karena mereka tahu caranya.

Materi yang membuat kita kaya raya dan hidup nyaman laksana kupu-kupu dengan sayap indah berwarna-warni dan menggugah hasrat orang untuk menangkapnya. Maka dibuatlah jaring besar dan kupu-kupu itu dikejar. Jika dianalogikan dengan aktivitas orang mencari nafkah, itulah yang banyak terjadi setiap hari; mengejar materi dengan jaring hingga bercucur keringat, namun kupu-kupu belum tentu tertangkap.

Mengapa cara berfikir ini tidak kita balik, sehingga kupu-kupu lah yang mendatangi kita? Tak mungkin? Oh, mungkin saja, karena pada prinsipnya, segala sesuatu menjadi mungkin jika Anda BENAR-BENAR MAU.

Kupu-kupu sangat menyukai bunga-bunga berwarna-warni dan harum semerbak, karena nektar (madu bunga) yang menjadi makanannya, ada pada kelopak bunga-bunga itu. Jadi tanamilah kebun atau pekarangan rumah Anda dengan tanaman bunga, dan rawat, serta tingkatkan dari waktu ke waktu. Dijamin, banyak kupu-kupu akan datang tanpa diundang. Jika ini pun dianalogikan dengan cara kita mencari nafkah, maka jadikanlah diri kita semenarik, sehebat, dan sebagus mungkin sehingga orang tahu, melihat, dan akhirnya membutuhkan kita serta memberi kita pekerjaan/proyek. Hal ini tentu saja perlu kemauan, ketekunan, dan modal, tapi jika dibandingkan dengan hasil yang akan Anda dapat kelak, ‘pengorbanan’ itu tak seberapa.

Jangan pernah merasa cukup pada apa yang telah Anda miliki dan dapatkan, dan jangan pula menjadi yang biasa-biasa saja. Saat ini dunia kerja dan bisnis begitu kompetitif sehingga pesaing Anda pun takut dikalahkan. Maka tingkatkan terus diri Anda agar kemakmuran dapat diraih tanpa harus berlelah-lelah mengejarnya.



(Artikel ini telah dimuat di majalah mingguan GATRA edisi 27 Januari - 2 Februari 2011)

Read More.. Read more...

Meraih Target 2011

Kamis, 27 Januari 2011

Tahun 2010 telah berlalu dan kini tahun 2011 kita tapaki. Seperti halnya tahun-tahun lalu, tahun inipun agenda para leader pasti penuh dengan berbagai program dan strategi guna mencapai goals. Bahkan sebelum pergantian tahun terjadi, program dan strategi telah dirancang agar begitu tahun baru dimulai, program dan strategi telah dapat dilaksanakan.

Target laksana harta karun yang harus dikejar, diburu, dan didapatkan, karena sangat mempengaruhi pergerakan perusahaan dalam bisnis yang digeluti. Jika target tercapai, perusahaan tumbuh seperti yang diharapkan. Jika tidak, maka sebaliknya. Karenanya, perusahaan ‘menekan’ para leader agar jangan ada satu pun goal yang lepas dari bidikan.

Meski laksana harta karun, target bukanlah sesuatu yang menakutkan dan sulit untuk didapatkan. Jika kita memiliki peta yang tepat untuk menjangkaunya, kita relatif akan dapat melangkah dengan lancar dan cepat ke arahnya, karena kita tahu ke arah mana saja kita harus menuju, dan jalan yang mana saja yang harus dilalui. Tapi tentu saja, sebelum peta dibuat, target yang dibuat pun harus jelas dan signifikan sehingga ketika akhirnya target didapat, hasilnya memuaskan.

Pada prinsipnya, target yang baik adalah target yang dapat menarik minat orang-orang di dalam maupun di luar tim, sehingga proses pencapaian target itu mendapat dukungan penuh dari semua pihak yang terkait. Selain itu, target juga harus signifikan, relevan, dan terukur. Target seperti ini disebut very attractive goals (VAG).

Mengapa target harus dibuat dengan jelas? Karena jika target Anda kabur atau abu-abu, Anda dan tim akan seperti sekawanan orang buta yang harus berjalan dengan meraba-raba, karena Anda dan tim tak tahu persis apa sebenarnya yang ingin Anda capai, dan kemana jalannya. Unclear goals bahkan hanya akan membuat Anda membuang banyak waktu, energi, dan biaya, namun tanpa hasil yang memuaskan.

Target harus signifikan
karena perusahaan tentu saja ingin tumbuh dalam skala yang tidak biasa agar dapat bersaing dengan kompetitor, bahkan kalau perlu keluar sebagai pemenang dalam persaingan yang terjadi. Target yang signifikan juga akan membawa perusahaan tumbuh melebihi yang diharapkan, sehingga bahkan mungkin dapat berkembang secara fenomenal.

Untuk menentukan apakah target yang dicapai relevan ataukah tidak, banyak hal yang harus dipertimbangkan. Misalnya, apakah target itu sepadan dengan kemampuan, kapasitas, dan daya dukung yang ada dalam perusahaan, dan apakah sesuai dengan kondisi terkini baik di dalam maupun di luar perusahaan. Tahun ini Anda mungkin dapat berharap banyak, karena meski prospek perekonomian global pada 2011 diprediksi melambat, namun Bank Indonesia (BI) memperkirakan kalau pelambatan itu justru akan membuat prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia akan lebih tinggi dibandingkan 2010. Bahkan karena prospek ini, pemerintah dan Komisi XI DPR sepakat untuk meningkatkan proyeksi angka pertumbuhan 2011 dari 6,3% menjadi 6,4%. Data-data seperti ini akan membantu Anda memperkirakan sebesar apa target harus dicapai, dan sebesar apa rintangan yang akan dihadapi.

Jika VAG telah ditetapkan, Anda tinggal membuat peta yang akan menjadi ‘penunjuk jalan’ bagi Anda dan tim untuk mencapai target. Untuk membuat peta ini, Anda dan tim hanya perlu mencari elemen kunci yang dapat mendorong dan mempengaruhi pencapaian target Anda. Elemen-elemen ini disebut key drivers.

Ada tiga elemen yang wajib Anda pertimbangkan untuk membuat peta jalan menuju pencapaian goals. Yakni, analisa keberhasilan Anda atau orang lain di masa lalu yang goalsnya identik dengan yang Anda dan tim ingin capai. Kedua, analisa sumber penghambat utama yang mungkin akan Anda dan tim hadapi dalam proses pencapaian goals. Dan ketiga, analisa kebutuhan ‘konsumen’ Anda dan penuhi.

Dengan menciptakan target yang jelas dan membuat peta jalan yang benar, target takkan lolos dari bidikan Anda.



(artikel ini telah dipublish oleh majalah Gatra edisi 19 Januari 2011)

Read More.. Read more...

Kiat Mempertahankan Pertumbuhan

Minggu, 16 Januari 2011

Artikel ini bertutur tentang bagaimana seorang pemimpin meningkatkan komitmen dan kontribusi dari seluruh anggota timnya.
Seperti kita tahu, anggota tim di sebuah organisasi banyak yang tidak memiliki komitmen, kontribusi yang rendah, serta tidak produktif. Ini disebabkan lima hal.

Pertama, kepemimpinan yang buruk. Kedua, tujuan yang tidak jelas. Ketiga, tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Keempat, budaya negatif yang kronis di dalam organisasi. Dan kelima, buruknya sistem kompensasi yang ada.

Apa akibat dari buruknya system kompensasi di sebuah perusahaan? Anda mungkin pernah juga mengalami demotivasi ketika bekerja di tengah lingkungan yang tidak menghargai secara layak semua jerih payah maupun pengorbanan yang terkadang sudah diberikan lebih dari apa yang merupakan kewajiban kita? Ya, itu jugalah yang dirasakan oleh tim kerja di sebuah organisasi yang tidak memberikan system kompensasi yang layak, tentu saja hal ini berdampak langsung terhadap penurunan kinerja, motivasi merosot, komitmen rendah sampai kontribusi yang negative. Parah bukan? Sebagai pemimpin di level manapun Anda saat ini, marilah membuat perubahan sebelum kondisi ini menjalar pada kerusakan-kerusakan lainnya.


Sustainability Circle

Gambar di samping ini adalah konsep yang disebut “Sustainability Circle” atau lingkaran pertumbuhan yang berkesinambungan. Konsep ini secara sederhana menunjukkan bahwa upaya (effort) dipengaruhi oleh motivasi (motivation) dan motivasi dipengaruhi oleh kompensasi (reward) yang didapatkan, dan demikianlah seterusnya.

Sehingga jika pemimpin atau organisasi ingin meningkatkan sumbangsih karyawannya maka harus dimulai dengan memberikan reward atau kompensasi yang baik pula, hal ini akan berdampak langsung terhadap motivasi mereka yang akan terangkat sehingga berpengaruh langsung terhadap peningkatan upaya dan peran dari tim kerja tersebut. Demikan juga sebaliknya.

Sebagian orang mungkin berangapan bahwa hal ini sangatlah sederhana, bagaimana mungkin hal sesederhana ini mampu menyelesaikan persoalan yang begitu pelik di dalam organisasinya? Benar, hal ini memanglah sederhana (secara konsep) tetapi dalam prakteknya ketika menjalankan aktifitas training dan konsultasi kami (CoreAction Result Consultant) masih sering menjumpai beberapa perusahaan yang rendah produktifitasnya hanya karena anggota timnya yang kecewa atas kompensasi yang mereka peroleh selama ini.


Reward System

Beberapa pemimpin beranggapan bahwa sistem kompensasi tersebut bukan merupakan kewenangannya, hal tersebut merupakan keputusan perusahaan melalui petinggi-petingginya sehingga ia sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa apalagi jika orang tersebut hanyanya Junior Manager yang tidak bersinggungan langsung dengan sistem pengajian di dalam perusahaannya. Alhasil konsep “Sustainability Circle” (reward-motivation-effort) ini tidak relevan dan tidak dapat ia terapkan di dalam tim kerjanya.

Anggapan tersebut tentu saja tidak tepat, karena system kompensasi yang kami sarankan tidak selalu berbentuk “Finance” atau “Uang” saja, ada reward-reward lain diluar faktor itu yang disebut “Non-Finance” yang dapat berupa pengakuan langsung dari atasan, perayaan atas pencapaian prestasi tertentu, sertifikat atau piagam perhargaan dan lain sebagainya. Dan sudah jelas semua pemimpin mampu melakukan ini untuk memotivasi tim kerjannya asal mereka mau dan peduli. Jika sebagai pemimpin, Anda memiliki keterbatasan untuk memberikan reward yang bersifat uang, maka maksimalkanlah reward yang berupa “non-finance” tadi.

Coba saja jika ada anggota tim yang benar-benar berprestasi Anda undang ke ruangan Anda secara pribadi, lalu Anda bantu rancang masa depan kariernya dengan cara memberikan nasihat-nasihat tentang kinerjanya, tentang kelebihan-kelebihan yang dapat dia tingkatkan maupun kekurangan-kekurangan yang harus dikikisnya. Atau jika Anda punya sedikit budget, Anda bisa mengajak sekelompok bawahan berprestasi di bulan ini untuk sama-sama makan siang secara ekslusif dengan Anda, dan momen tersebut mereka diperbolehkan memberikan masukan-masukan bagi kemajuan perusahaan di masa yang akan datang, dan masih banyak lagi aktifitas sejenis ini yang dapat Anda selenggarakan secara rutin maupun pada event-event khusus.

Uang Bukanlah Alasan Utamanya

Sebuah survei yang dilakukan oleh konsultan sumberdaya manusia terkemuka Watson Wyatt dengan tema WorkIndonesia 2004/2005. Yang merupakan penelitian yang paling komprehensif dan pertama dilakukan di Indonesia dan Asia mengenai komitmen, sikap, dan pandangan karyawan. Survei ini diikuti oleh lebih dari 8.000 responden aktual dari 46 perusahaan di 14 industri utama di Indonesia. Jumlah responden itu menyumbang 9% dari total sampel penelitian WorkAsia, yang dilakukan di 11 negara, meliputi 515 perusahaan, dan 115.000 responden actual.

Dalam survey ini juga ditanyakan apa alasan seseorang untuk terus bekerja di perusahaan tempat ia bekerja saat ini dan juga apa alasan seseorang pindah kerja, dan lima jawaban teratasnya adalah;
• Memberikan peluang lebih baik untuk mendayagunakan keahlian
• Menyediakan peluang training dan pengembangan diri yang lebih baik
• Perusahaan tempatnya bekerja tersebut memiliki prospek sukses lebih baik di masa depan
• Paket kompensasi yang lebih baik
• Peluang karir yang lebih baik
Sehingga cukup jelas, Uang bukanlah alasan utamanya.

Oleh sebab itu, artikel ini ingin mengingatkan kembali bahwa sebagai pimpinan di level manapun kita dapat berbuat sesuatu untuk mempertahankan pertumbuhan yang berkesinambungan perusahaan kita dengan cara meningkatkan motivasi tim kerja yang mana dapat bersumber dari reward yang bersifat finance maupun non-finance.


Selamat mencoba, karena hasil akhir yang berkualitas, dimulai dengan implementasi yang berkwalitas (QI), Semoga bermanfaat.

Read More.. Read more...

Key Drivers, Peta Jalan Mencapai Target

Target adalah sebuah ‘kata sakti’ yang mampu membuat orang “panas-dingin” hingga ketakutan setengah mati, atau justru menjadi sangat bersemangat sehingga seolah memiliki energi berkali-kali lipat untuk bekerja. Mengapa? Karena target dapat menjadi cermin yang begitu transparan bagi seorang pemimpin untuk ‘melihat’ bagaimana prilaku dan etos kerja anak buahnya. Jika ada di antara mereka yang selalu mencapai target, pimpinan dapat menebak bahwa anak buahnya yang satu ini sangat rajin, penuh dedikasi, dan layak dipromosikan. Atau sebaliknya?

Seorang teman yang berkerja di sebuah perusahaan otomotif terkemuka di Jakarta, pernah bercerita tentang bagaimana bingung dan takutnya dia ketika mendapat target yang menurutnya akan sangat sulit dia capai. “Bayangkan,” katanya dengan semangat curhat yang menggebu-gebu, “Bos ngasih gue target harus mampu ngejual minimal 30 unit motor untuk Januari 2010 ini. Padahal, sekarang saja (Desember 2009-red), gue cuma bisa ngejual 10 unit. Itu pun gue udah termehek-mehek!” katanya.

Tom, temanku itu, mengaku, dia sempat tak bisa tidur karena terbayang akan didepak dari perusahaan bulan depan. Dia bahkan mengaku tak tahu apa yang harus dilakukan untuk dapat memenuhi target tersebut, dan mulai berfikir untuk mencari pekerjaan baru.

Banyak dari kita selalu takut, khawatir, dan bingung jika mendapat beban yang dianggap tak biasa dan melebihi kemampuan yang kita miliki. Ini terjadi karena kita selalu berfikir, bahwa ini sulit, ini tak mungkin dikerjakan, ini tak mungkin dicapai, aku tak bisa melakukannya, dan sebagainya. Padahal, apa yang kita fikirkan, itulah yang akan terjadi, karena ketika kita berfikir; “AKU TIDAK BISA”, maka pikiran sadar & bawah sadar kita akan mencari cara membuktikan bahwa kita memang tak bisa.

Tapi jika kita berfikir; “OH, AKU BISA”, meski pada saat itu kita tak tahu caranya, tetapi energi dan seluruh sumber daya dalam diri kita akan membantu mencarikan jalannya, sehingga kita sering memiliki motivasi dan kemampuan untuk mengerjakan hal itu hingga tuntas. Fikiran merupakan salah satu karunia yang maha dahsyat dari Tuhan YME.

Salah satu kunci sukses mencapai target adalah “mendesign target yang jelas & menarik bagi seluruh anggota tim” yang sudah kita bahas di edisi sebelumnya. Dalam artikel kali ini kita akan membahas topik yang tidak kalah pentingnya, yaitu “Membuat Peta Jalan untuk Mencapai Target tersebut” yaitu dengan mencari beberapa elemen kunci yang disebut sebagai KEY DRIVERS.


KEY DRIVERS

 
Seperti dijelaskan di atas, kunci sukses meraih target adalah jika kita yakin dapat mencapai target itu, dan tahu bagaimana caranya. Nah, untuk tahu cara dimaksud, yang pertama kali harus Anda lakukan adalah cari key drivers-nya, yaitu penyebab-penyebab utama atau faktor-faktor yang paling dominan yang mendorong tercapainya target tersebut.

Key drivers ini dapat Anda temukan dengan mengidentifikasi fakta-fakta penting yang terkait dengan target Anda. Sebagai contoh, jika target Anda adalah ingin meningkatkan penjualan dari 200 unit mobil per bulan menjadi 400 unit mobil per bulan, cari tahu bagaimana kondisi pasar saat ini, bagaimana kemampuan daya beli masyarakat, berapa dana promosi yang disiapkan perusahaan, dan sebagainya. Lalu tuliskan menjadi sebuah list, dimulai dari fakta yang paling signifikan mempengaruhi pencapaian target Anda, hingga yang kurang signifikan.

Dengan membuat list seperti ini, Anda akan tahu apa saja kendala yang akan Anda hadapi selama proses pencapaian target berlangsung, dan bagaimana mengantisipasinya.

Jika list fakta utama telah dibuat, lakukan tiga langkah di bawah ini untuk menentukan key drivers Anda.

1. Analisa Keberhasilan di Waktu Yang Lalu
Pengalaman adalah guru yang paling baik, karenanya jangan pernah lupakan pengalaman yang berharga. Jika saat ini target Anda adalah meningkatkan penjualan dari 200 unit mobil per bulan menjadi 400 unit mobil per bulan, ingat-ingatlah apakah di waktu yang lalu Anda memiliki target yang serupa, dan target tersebut tercapai dengan baik? Jika ya, ingat lagi apa faktor penentu yang membuat target itu tercapai, dan gunakan untuk mencapai target Anda yang kali ini. Jika di waktu yang lalu Anda tak punya target serupa dengan target yang kali ini, cari tahu apakah ada rekan kerja atau pesaing yang pernah memiliki target serupa, atau yang relatif sama dengan target Anda kali ini, dan berhasil mencapainya. Jika ada, buat daftar apa saja yang mereka lakukan sehingga bisa berhasil.

2. Analisa Sumber Penghambat Utama
Jalan tak selalu mulus, karena kadang berkelok, berbatu-batu tajam, bahkan ada portal atau polisi tidur melintang di tengah jalan. Karena itu, wajar jika dalam upaya mencapai target, Anda dihadang kendala. Dari semua rintangan yang ada, cari tahu yang mana yang dapat menjadi penghambat utama pencapaian target Anda, dan antisipasi. Dengan cara ini, Anda melempangkan jalan Anda, bahkan menghalau kesulitan yang akan membebani langkah Anda.

3. Analisa Kebutuhan “Konsumen”
Seseorang bisa sukses jika dia tak hanya memfokuskan diri pada kepentingannya sendiri, tapi juga kepentingan “konsumennya” apalagi dalam dunia sales dimana konsumen sangat dibutuhkan untuk melariskan produk yang dipasarkan. Jika Anda ingin menaikkan angka penjualan Anda, find the need then fill it! Jangan membuat konsumen tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan dari Anda. Jika mereka membutuhkan layanan yang baik, berikan. Jika mereka membutuhkan produk yang bermutu namun dengan harga terjangkau, yakinkah mereka bahwa konsumen takkan rugi membeli produk yang Anda jual. Jadilah sales dan pelayan konsumen yang baik sekaligus.


Dari menganalisa ketiga faktor tadi – Keberhasilan di masa lalu, Penghambat Utama dan Kebutuhan Konsumen – kemudian masing-masing variablenya dibuatkan bobot untuk menentukan prioritas. Yang tidak kalah penting dalam mencari KEY DRIVERS adalah prosesnya yang melibatkan seluruh anggota tim – yang bertanggung jawab langsung atas pencapaian target tersebut. Hal ini selain untuk mendapatkan ide-ide brilian dan membangun saluran komunikasi dengan mereka juga untuk menciptakan emotional bounding mereka terhadap pencapaian target yang telah ditentukan bersama.

Selamat mencoba, karena hasil akhir yang berkualitas, dimulai dengan implementasi yang berkwalitas (QI).


(artikel ini telah dimuat di Majalah Marketing edisi Oktober 2010)

Read More.. Read more...

Kevin Wu Beri Pelatihan QI Person Kepada Karyawan BPPT

Kamis, 11 November 2010

Sebanyak 30 orang karyawan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan 60 karyawan dari sejumlah instansi yang menerima beasiswa S2 dan S3 dari lembaga tersebut, seperti karyawan dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek) mengikuti training Quality Implementation (QI) Person yang diselenggarakan di auditorium Gedung 2 Lantai 3 Gedung BPPT, Jakarta, Rabu (10/11/2010).

Saat membuka pelatihan ini, Sesmenristek Mulyanto mengatakan, dia ingin dengan diselenggarakannya pelatihan ini, karyawan BPPT maupun karyawan dari istansi lain yang mendapat beasiswa S2 dan S3 dari BPPT, tumbuh menjadi pribadi-pribadi unggul yang berkualitas.
"Dengan menjadi pribadi-pribadi seperti itu, saya berharap kalian semua dapat memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara, sesuai bidang pekerjaan yang kalian tekuni. Uang atau materi bukan segalanya. Anda bisa saja membeli apapun yang Anda inginkan dengan uang, tapi Anda tidak bisa membeli kebahagiaan. Anda juga bisa membeli seks dengan uang, tapi tidak bisa membeli cinta," katanya.
Apa yang diinginkan Mulyanto ini sejalan dengan hasil yang dapat dicapai dengan mengikuti training QI Person, karena metode ini dapat mendorong seseorang untuk menjadi pribadi-pribadi unggul dan berkualitas yang dapat sukses di segala bidang, baik rumah tangga, karir, pergaulan sosial, dan sebagainya. Selama lebih dari tujuh jam, mulai pukul 09.15 hingga 16.45 WIB, Managing Director CoreAction Result Consulting yang juga salah seorang trainer muda Indonesia, Kevin Wu, menjelaskan, bahwa QI Person mengajarkan, untuk menjadi pribadi berkualitas yang pasti sukses dalam hidupnya, minimal ada empat langkah yang harus dilakukan, yakni dress up, step up, back up, dan grow up.
"Dengan keempat langkah ini, setiap pribadi dapat melakukan sesuatu secara efektif, efisien, namun dengan hasil yang maksimal. Selain itu, keempat langkah ini juga akan membuat seseorang menjadi pribadi yang toleran, humble, berfikiran positif, cermat, mampu mengeluarkan semua potensi dalam dirinya, dan selalu berupaya memberikan hanya yang terbaik bagi dirinya, keluarganya, perusahaan atau instansi tempatnya bekerja, dan lingkungan sekitarnya," kata Kevin.
Usai pelatihan, dari feed back yang diberikan peserta diketahui, kalau rata-rata peserta puas pada apa yang diajarkan dalam metode QI Person, karena setelah mengikuti pelatihan, banyak hal yang baru mereka mengerti dan ketahui, yang sebelumnya bahkan sama sekali tak terfikirkan. Rata-rata peserta memberikan poin 8 dan 9 untuk materi yang diajarkan CoreAction Result Consulting melalui trainer utamanya, Kevin Wu.
QI Person telah diajarkan pada banyak instansi, di antaranya kepada para agen Pudential yang trainingnya diselenggarakan pada 28 Agustus 2010, Bank Bukopin pada 7 Agustus 2010, Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi pada 3 Agustus 2010, dan Radio Dakta FM pada 3 Juli 2010.

Read More.. Read more...

Trik Sukses Merintis Karir

Jumat, 27 Agustus 2010

Anda penggemar mendiang Micheal Jackson atau grup band lawas Koes Plus? Mengapa ada yang menyukai mereka, bahkan begitu mengidolakannya, sehingga tanda tangannya pun sangat diinginkan?
Micheal Jackson, Koes Plus dan sederet artis beken lainnya dipuja karena ada sesuatu dalam diri mereka yang membuatnya disukai dan digilai banyak orang. Sesuatu itu adalah bakat yang dipadu dengan skill yang mumpuni,

sehingga setiap lagu yang mereka ciptakan, mereka nyanyikan, dan penampilan mereka di panggung, mampu membuat orang mengalami histeria. Tak ada yang memungkiri, mereka memang hebat.
Sebelum terkenal, Jacko, panggilan akrab Micheal Jackson, bukan apa-apa. Dia hanyalah orang biasa yang sejak kanak-kanak didorong orangtuanya untuk sukses berkarir di musik. Personel Koes Ploes pun begitu. Yon, Yok, Tony, dan Muri harus jatuh bangun sebelum akhirnya menjadi besar melalui sebuah grup band. Dan mereka tak terlupakan hingga kini, meski dari waktu ke waktu hadir musikus-musikus dan biduan-biduan baru dalam blantika musik Indonesia. Dalam acara lagu-lagu nostalgia di televisi dan radio, lagu Koes Plus termasuk lagu pavorit yang diperdengarkan.
Sosok-sosok selebritis ini memberi clue bagi kita bagaimana caranya jika kita ingin sukses di bidang yang kita geluti, yakni jadikan diri kita mampu melakukan dan memberikan yang terbaik bagi orang lain, dan efeknya adalah kesuksesan bagi kita dalam berkarir. Mimpi jika kita hanya melakukan yang biasa-biasa saja, atau bahkan jauh dari baik, orang akan melihat kita, memuja kita, dan mendukung kita, Jika Anda kerap mengecewakan orang, Anda pasti akan ditinggalkan. Lalu, apa artinya hidup Anda jika tiada siapapun di dekat dan di sekitar Anda? Dapatkah Anda hidup tanpa orang lain? Dapatkah Anda sukses? Manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang membutuhkan orang lain untuk dapat mendukung kehidupannya. Termasuk mendukungnya untuk mencapai sukses di bidang apapun. Jangan abaikan ini.
Bagaimana caranya untuk dapat melakukan yang terbaik? Dress Up! Isi diri Anda dengan hal-hal yang diperlukan, sehingga Anda menjadi bak taman yang indah dan menawan, taman dimana di dalamnya terdapat bunga berwarna-warni yang mekar, indah, dan harum, sehingga kumbang dan kupu-kupu pun berdatangan untuk meramaikan dan menggairahkan hidup Anda. Langkah tepat untuk men-dress up diri Anda adalah dengan meningkatkan context dan content diri Anda, sehingga value Anda meningkat dan Anda tumbuh menjadi pribadi yang mengesankan, pribadi yang selalu menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar Anda karena kelebihan-kelebihan yang Anda miliki.
Apa sajakah Context dan content dalam diri Anda yang harus ditingkatkan?
Context adalah apa yang terlihat dan didengar langsung dari diri Anda, seperti your appearance (penampilan Anda), your word (cara Anda bertutur kata), dan your action (tindakan Anda). Ketiga hal ini merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, sehingga jika satu saja dari kedua hal tersebut Anda abaikan, maka pengembangan context Anda takkan maksimal. Maka tingkatkan ketiganya.
Berikut tips meningkatkan your appearance, your word, dan your action.

1. Your Appearance

Penampilan Anda merupakan cerminan diri Anda, sehingga dari apa yang tampak pada kulit luar Anda, orang akan dapat menduga, atau bahkan menebak dengan jitu, apa, siapa, dan bagaimanakah Anda. Jangan pernah lupakan kalau orang-orang di sekitar Anda mungkin melihat dan memperhatikan Anda setiap hari, akan tetapi jangan pernah berfikir mereka tahu apa yang Anda fikirkan dan yang berkecamuk di hati Anda, karena terlalu sedikit orang yang memiliki kemampuan dapat membaca fikiran dan hati orang lain. Maka berpenampilan lah dengan baik dan sesuai kepribadian Anda. Jangan berlebihan dan jangan pula mengada-ada. Anda tentu takkan nyaman jika orang berfikir keliru tentang diri Anda.

2. Your Word

“Mulutmu adalah macanmu”. Ingat selalu kata-kata bijak ini, karena apa yang keluar dari mulut Anda dapat mendatangkan berkah, namun juga bencana. Sesuaikan cara bicara Anda dengan level Anda saat ini, dan pilih dengan tepat setiap kata maupun kosa kata yang Anda gunakan. Orang dengan kepribadian yang baik dan professional adalah orang-orang dengan kata-kata besar yang membangun harapan, kedamaian, dan kebersamaan. Bukan orang dengan kata-kata yang mengundang silang sengketa dan permusuhan.

3. Your Action

“Time is money, so do it now!” Ini kalimat yang dipegang teguh oleh mereka yang telah sukses dalam berkarir. Jika Anda memiliki rencana atau tugas yang harus dikerjakan, tapi Anda selalu menunda-nunda eksekusinya, waktu yang Anda butuhkan untuk mencapai sukses akan lebih lama dari yang Anda targetkan. Bahkan mungkin saja bukan keberhasilan yang Anda dapat, melainkan kegagalan. Mengapa? Karena kita hidup dalam dunia yang begitu dinamis dan kompetitif, dunia dimana semua orang di dalamnya juga seperti Anda; memiliki keinginan. Jika mereka dapat bergerak dengan cepat dan Anda tidak, maka Anda akan tertinggal. Semakin jauh mereka meninggalkan Anda, akan semakin sulit Anda mengejar. Bahkan tidak tertutup kemungkinan, sebelum Anda sanggup mengejar, Anda sudah kehabisan energy akibat usia yang sudah menua, sehingga Anda terpuruk menjadi orang yang gagal. Jadi singkirkan sifat suka menunda-nunda pekerjaan, dan jangan malas!

Content adalah value dalam diri Anda yang berperan sangat penting untuk mencapai kesuksesan. Namun demikian, content dan context tak dapat dipisahkan karena keduanya saling menunjang. Ada tiga hal yang harus Anda tingkatkan jika ingin content Anda meningkat, yakni knowledge (ilmu pengetahuan), skill (kemampuan), dan attitude (sikap atau perilaku).

1. Meningkatkan Knowledge

Banyak cara untuk meningkatkan ilmu pengetahuan Anda. Jika Anda tidak memiliki uang atau waktu untuk kuliah,rajin mengikuti setiap perkembangan yang terjadi di dunia ini melalui siaran radio, televisi, dan surat kabar atau majalah, adalah salah satu caranya, karena dengan begitu bukan hanya ilmu pengetahuan Anda yang bertambah, tapi juga wawasan Anda. Namun demikian, dari semua informasi yang Anda serap, perbanyak informasi yang terkait langsung dengan bidang yang Anda geluti, bidang dimana Anda ingin sukses. Dengan pengetahuan dan wawasan yang mumpuni, jalan Anda untuk menggapai sukses di bidang itu relatif akan lebih mudah karena pengetahuan dan wawasan yang Anda miliki dapat menjadi modal untuk membangun net work, mengatasi kendala, membaca kondisi terkini, membangun strategi baru, dan sebagainya. Jangan melangkah tanpa pengetahuan sama sekali karena hal itu akan menempatkan Anda pada situasi dimana layaknya orang buta yang berjalan tanpa dapat melihat medan yang tengah dia tempuh.

2. Meningkatkan Skill

Apa pekerjaan Anda saat ini? Dan pekerjaan itu membuat Anda melakukan apa saja? Asah terus apa yang Anda lakukan tersebut hingga Anda mahir. Jika Anda seorang sales, pertajam keahlian Anda dalam menjual. Orang menjadi ahli di bidang tertentu karena dia terus dan terus melakukannya, dan sambil melaksanakan hal itu, dia juga meningkatkan kualitas dari apa yang dilakukannya. Mimpi jika Anda melakukan pekerjaan Anda dengan begitu-begitu saja, tanpa peningkatan kualitas, Anda akan mahir dalam bidang pekerjaan Anda. Micheal Jackson melejit menjadi King of Pop dunia karena keahliannya menyanyi dan menari terus menerus meningkat seiring dengan pertumbuhan usianya. Tonton saja videonya saat Jacko masih kanak-kanak dan remaja, dan bandingkan dengan setelah Jacko dewasa. Perubahan drastis akan sangat Anda rasakan.

3. Meningkatkan Attitude

Attitude atau perilaku/sikap kita terkait erat dengan karakter kita. Karenanya jika kita ingin meningkatkan attitude, kita harus mau mengubah karakter buruk kita menjadi baik. Orang yang sukses biasanya memiliki sifat humble (rendah hati), pekerja keras, tekun, mau belajar, dan pantang menyerah. Jika Anda belum memiliki karakter-karakter seperti ini, suntikkan ke dalam diri Anda dan biarkan melekat pada pribadi Anda. Orang yang keras kepala, sombong, tidak jujur, dan malas, biasanya orang-orang yang berada dalam deretan orang yang hidupnya tidak sukses. Ingat saja, hal-hal yang baik akan mendatangkan hal yang baik pula. Begitupun sebaliknya.

Oke, guys! Semoga bermanfaat. Hasil akhir yang berkualitas, dimulai dengan implementasi yang berkualitas (Quality implementation/QI).

Kevin Wu
Result Consultant
Managing Director CoreAction Result Consulting
info@thecoreaction.com
www.thecoreaction.com

(artikel ini telah tayang di Kompasiana.com. Silahkan klik di sini).

Read More.. Read more...

Karyawan Bank Bukopin Ikuti Pelatihan QI Person

Senin, 09 Agustus 2010

Sebanyak 51 karyawan Bank Bukopin, Sabtu (7/8), mengikuti pelatihan Quality Implementation (QI) Person di gedung Bank Bukopin Jl. S. Parman, Jakarta Barat. Pelatihan diselenggarakan guna meningkatkan semangat dan motivasi kerja para karyawan tersebut.

Regional Sales Head Bank Bukopin, Reinhart I. Tampubolon, menjelaskan, dengan dilakukannya pelatihan ini, pihaknya berharap para karyawan dapat mencapai target yang ditetapkan.
“Kami sangat ingin mereka dapat melakukan yang terbaik, tak hanya untuk perusahaan sebenarnya, tapi juga untuk dirinya sendiri juga,” kata dia.
Ke-51 karyawan tersebut selain berasal dari intern Bank Bukopin, juga berasal dari lima agency yang menjadi mitra bank berperingkat kedelapan dalam jajaran bank berskala nasional di Indonesia ini. Kelima agency tersebut adalah PT. FIRA, PT. DIMAS, PT. CDR, PT. SSM, dan PT. TORA. Usai latihan, salah seorang peserta mengaku sangat senang dapat mengikuti pelatihan, karena sangat bermanfaat baginya.
“Saya merasakan, pelatihan ini membuat saya menjadi lebih termotivasi dalam bekerja,” katanya.
Materi QI Person disampaikan oleh trainer yang juga managing director CoreAction Result Consulting, Kevin Wu. Padatnya materi yang membuat penyelenggaraan pelatihan yang semula dijadwalkan mulai pukul 09.00 hingga 17.00, molor menjadi hingga pukul 16.30. Namun demikian, game-game yang diselipkan Kevin di antara materi yang disampaikan, juga guyonan-guyonan, membuat peserta betah mengikuti sesi pengembangan diri ini hingga tuntas. Bahkan pada lembar kuesioner yang diberikan Kevin sebelum pelatihan berakhir, beberapa di antara mereka menuliskan saran agar lain kali durasi pelatihan diperpanjang.
“Kalau perlu ditambah menjadi dua hari,” tulis salah seorang peserta di kuesionernya.
QI Person mengajarkan peserta pelatihan untuk mengimplementasikan lima hal jika ingin mencapai target yang diberikan perusahaan. Yakni wake up, dress up, step up, back up, dan grow up. Kelima kunci ini bahkan dapat membentuk mereka menjadi pribadi-pribadi yang berkualitas, pribadi-pribadi yang tak hanya dapat sukses dalam berkarir, tapi juga dalam berumah tangga, dalam pergaulan, dan sebagainya, karena kelimanya akan membentuk peserta menjadi pribadi yang bertindak sesuai logika, bukan pengkhayal atau pemimpi; pribadi yang selalu melakukan eksekusi atas rencana maupun kebijakan yang dibuat hingga tuntas; pribadi yang selalu meningkatkan value-nya sehingga memiliki skill dan pengetahuan yang memadai; pribadi yang dapat memanajemeni waktu, uang, dan orang-orang di sekitarnya dengan baik; dan pribadi yang tidak cepat puas atas apa yang telah dicapai sehingga terus tumbuh dan tumbuh menjadi pribadi yang semakin baik.
Sebelumnya, karyawan Dakta FM dan pejabat Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi telah mengikuti pelatihan ini. Untuk mengetahui lebih detil, klik di sini, dan klik di sini.

Read More.. Read more...
Related Posts with Thumbnails

  © Blogger template The Beach by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP